Serangan Fajar Itu Ternyata Hina

0
3

Sudah dua malam ini aku selalu terbangun di tengah malam, dengan semangatnya lantas duduk di teras rumah. Hari ini, Rabu dinihari tanggal 17 April 2019 merupakan terakhir pengharapanku untuk untuk mendapat sesuatu dari tamu tak diundang seperti yang diceritakan tetangga kampung sebelah. Aku tinggal di perumahan yang berbatasan langsung dengan kampung sebelah. Hubungan kami sangat akrab, informasi apapun kadang berasal dari kampung ini.

Katanya dinihari sampai matahari terbit nanti akan ada “serangan fajar” kata tetanggaku yang tidak perlu aku sebut namanya. Dia cerita kalau Paketan lumayan dapatnya.

“Paketan?”, tanyaku ke dia dengan terheran-heran.

“Kok seperti beli kuota data, ” komentar ku.

Dengan Semangat, tetanggaku ini menceritakan sesuai versinya. Kalau Paketan maksudnya si oknum tim sukses ini akan memberi uang sejumlah beberapa ratus ribu yang nantinya diarahkan untuk mencoblos si A untuk DPRD Kabupaten, si B untuk DPRD provinsi dan si C untuk DPR RI.

Antara gundah dan penasaran akan serangan fajar ini aku mantapkan nongkrong di teras, barangkali ada tim sukses yang kerumah tidak perlu ketuk-ketuk pintu terlalu lama.
Sambil menunggu yang tidak pasti ini, aku coba buka smartphone. Searching mengenai serangan fajar. Ah ternyata prilaku ini merupakan tindakan tercela nan melukai hati rakyat ketika kita mulai membangun demokrasi yang beradab.
Kadang aku berpikir, memang dengan dapat beberapa ratus ribu rupiah saat ini tentunya dapat aku pakai untuk memenuhi beberapa hari kebutuhan hidupku. Tapi apakah nilai ini sebanding dengan nilai suara sebagai hak dan kewajiban sebagai warga negara dalam pemilu. Dengan menerima uang serangan fajar tentunya Suara ku akan tersandera. Apakah dengan jalan seperti serangan fajar ini, kandidat tersebut akan amanah menjalankan tugasnya kalau terpilih?.

Dari obrolan di warung kemarin pun, katanya serangan fajar ini masih efektif untuk mengumpulkan suara dalam pemilu. Meski cara ini terlarang, akan tetapi ada saja yang tetap melakukan aksi ini, tentu pastinya aksi ini akan dilakukan secara diam-diam agar tidak ketahuan.

Dalam menunggu tak pasti ini aku coba lihat ganjaran apa yang diterima ketika serangan fajar ini dilaksanakan. Ternyata ganjarannya sesuai dengan Pasal 523 ayat 3 UU Nomor 7 Tahun 2016 Tentang Pemilu.

“Setiap orang yang dengan sengaja pada hari pemungutan suara menjanjikan atau memberikan uang atau materi lainnya kepada Pemilih untuk tidak menggunakan hak pilihnya atau memilih Peserta Pemilu tertentu dipidana dengan pidana penjara paling lama 3 (tiga) tahun dan denda paling banyak Rp36.000.000,00 (tiga puluh enam juta rupiah).”

Jadi nanti kalau disaat pemilu ada yang ketahuan memberikan serangan fajar, kalau keciduk bisa kena pidana paling lama 3 tahun atau denda 36 juta paling banyak.
Lantas kalau aku menerima uang serangan fajar ini tidak ada sanksinya? Ah enak sekali tentunya si penerima seperti aku ini. Sambil membayangkan lembaran merah bergambar bapak Sukarno – Hatta.
Lamunanku buyar ketika membaca penjelasan di smartphone jadul ini. Sambil bersorak dalam hati ternyata sipenerima serangan fajar tidak mendapat sangsi atau ganjaran hukum.

Apa benar nich?. Ternyata disana dijelaskan memang dalam UU Pemilu tidak ditemukan sanksi bagi yang menerima uang serangan fajar, maka jika tidak diatur dalam aturan khusus maka kembali ke aturan umum. Pasal 149 KUHP, berbunyi yang berbunyi (1) Barang siapa pada waktu diadakan pemilihan berdasarkan aturan-aturan umum, dengan memberi atau menjanjikan sesuatu, menyuap seseorang supaya tidak memakai hak pilihnya atau supaya memakai hak itu menurut cara tertentu, diancam dengan pidana penjara paling lama sembilan bulan atau pidana denda paling banyak empat ribu lima ratus rupiah; (2) Pidana yang sama diterapkan kepada pemilih, yang dengan menerima pemberian atau janji, mau disuap.

Penerima serangan fajar bisa kena jerat hukum kalau keciduk yaitu sembilan bulan paling lama dipenjara. Hal tersebut kalau kita bicara secara normatif. Nah lho, demi beberapa lembar rupiah bisa merasakan dinginnya lantai Rutan.
Waktu pun terus berjalan, jelang subuh pun belum ada tanda-tanda orang mau datang. Kalau pun nanti ada yang datang tentunya kesadaran moral ku sebagai warga negara akan hilang. Jelas-jelas serangan fajar secara hukum,etika dan moral adalah sesuatu yang sangat tidak dibenarkan. Maka dari itu, bilamana masih ada yang tetap melakukan aksi serangan fajar dan masih ada yang menerima serangan fajar maka dapat kita katakan bahwa kesadaran moralnya telah hilang.

Duh, hina banget kalau aku menerima uang serangan fajar ini. Kan ini bisa dianggap simbiosis mutualisme karena disatu sisi bisa menguntungkan yang memberikan, karena peluang untuk menang terbuka lebar dan penerima serangan fajar juga untung karena dompetnya bisa terisi.
Mutualisme macam apa kalau hal ini dapat merobohkan sendi demokrasi yang dibangun di Indonesia.
Pertentangan mengenai serangan fajar masih berkecamuk di dada. Bukannya serangan fajar konon katanya sudah hal lumrah di setiap pemilu. Ah mosok sih hal lumrah, tapi selama berkali-kali pemilu aku kok belun pernah mendapat serangan fajar.

Setelah sholat subuh, aku teruskan nongkrong di teras rumah, sambil minum kopi buatan istri tercinta. Ternyata sampai matahari terbit pun, tidak ada satu orang pun yang bertamu ke rumah. Dengan penasaran juga aku tanya ke tetangga kanan kiri rumah, ternyata dia juga tidak menerima serangan fajar.

Alhamdulillah, serangan fajar tidak lewat di rumahku dan komplek perumahanku. Aku bisa mengajak anak dan istri ke Tempat Pemungutan Suara (TPS) dengan jiwa merdeka tanpa beban. Dapat menggunakan hak suaraku tanpa harus tersandera, dimana pemilih berdaulat negara kuat. (*)

Facebook Comments

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here