Koperasi Itu Soko Guru Ekonomi

0
5

Cita-cita membangun koperasi adalah amanat konstitusi Undang-Undang Dasar 1945. Pasal tersebut berbunyi “Perekonomian disusun sebagai usaha bersama berdasar atas azas kekeluargaan”. Tampak sangat jelas bahwa usaha yang dikelola secara kekeluargaan, bersifat gotong royong sangat tidak asing lagi bagi masyarakat Indonesia ialah Koperasi, sebagai penghimpun potensi ekonomi rakyat koperasi harus tumbuh kokoh di tengah-tengah masyarakat dan menjadi salah satu “sokoguru” keberhasilan pembangunan demokrasi ekonomi. Perlu disadari bahwa membangun koperasi agar menjadi salah satu sokoguru dalam ekonomi nasional kita, khususnya koperasi dipedesaan yakni dengan cara meningkatkan kemampuan koperasi terutama dalam memberikan pelayanan sehingga betul-betul dirasakan manfaatnya oleh rakyat pedesaan. Sejarah mencatat langkah seperti itu sudah dirintis sejak era kepemimpinan Presiden Soeharto tahun 1976 dimana penulis sendiri belum lahir, perlu diketahui bahwa penulis saat ini merupakan mahasiswa pasca sarjana Institut Koperasi Indonesia (IKOPIN) dan beraktivitas sebagai tenaga ahli di Kementerian Koperasi dan UKM RI serta fasilitator Lembaga Pendidikan Perkoperasian Dewan Koperasi Indonesia (DEKOPIN). Pada saat itu sekitar tahun 1976 presiden Soeharto mengarahkan bentuk dan isi Badan Usaha Unit Desa (BUUD) menjadi Koperasi Unit Desa (KUD).

BUUD yang sudah jalan terus didorong agar bentuk, isi dan badan usahanya menjadi Koperasi Unit Desa agar dapat dikelola secara demokrasi ekonomi berbasis kerakyatan. Usaha koperasi diarahkan agar sesuai dengan usaha masing-masing anggotanya, dimana anggota koperasi menggalang potensi diri serta koperasi berfungsi untuk melayani dan memecahkan masalah usaha anggota. Sebagai contoh koperasi pedesaan dimana mayoritas anggota dan masyarakat setempat ialah para petani maka aktivitas usaha koperasi harus menunjang aktivitas perkonomian para petani dengan cara melayani dan menyediakan segala sesuatu kebutuhan pertanian dari hulu hingga hilir, tak jarang masyarakat pedesaan menilai bahwa aktivitas usaha koperasi itu hanya seputar simpan pinjam belaka, namun sesungguhnya lebih dari itu koperasi merupakan suatu bentuk perusahaan yang sejajar dengan perseroan terbatas (PT) yang kita ketahui ruang lingkup usahanya tidak terbatas pada satu sektor saja.

Menjadikan koperasi sebagai sokoguru ekonomi nasional harusnya menjadi tekad dan prioritas pemerintah dari masa ke masa, mengingat hal tersebut merupakan amanat konstitusi yang tertuang dalam UUD 1945. Sudah saatnya sektor negara, sektor swasta dan sektor koperasi harus tumbuh serasi saling menghidupi satu sama lain, bukan saling mematikan. Dalam jangka panjang koperasi harus menjadi sokoguru ekonomi nasional kita, namun dengan tetap memandang pada arah jangka panjang dan cita-cita besar, kita juga harus bersikap realistis. Cita-cita besar tidak pernah akan terwujud hanya dengan semboyan dan slogan. Cita-cita besar hanya akan terwujud melalui perjuangan, demikian pula dalam menegakkan dan memperjuangkan koperasi kita pun harus realistis, harus berani melihat kenyataan.

Perlu Kiprah Generasi Muda
Kenyataan dilapangan yang kita temui salah satunya ialah hasil pengamatan penulis disetiap kali kegiatan kunjungan koperasi dari daerah ke daerah, yang menunjukan bahwa lima puluh persen lebih pengurus koperasi Indonesia berusiakan lima puluh tahun keatas yang notabennya kurang melek akan perkembangan teknologi saat ini. Hal ini patut menjadi bahan penelitian dan pengkajian; dimanakah peran generasi muda?, apakah dipandang bahwa koperasi ini tidak menarik dan tidak sexy bagi kaum milenial?, apa jangan-jangan mereka tidak tahu keberadaan koperasi dimuka bumi ini?, telah kita ketahui bersama bahwa era revolusi industri 4.0 merupakan era digital yang berbasiskan big data, internet of things dan semua itu melekat dan erat kaitannya dengan kehidupan kaum milenial. Melihat kondisi tersebut maka sangat disayangkan jika pengelola koperasi masih menggunakan cara-cara lama dalam mengelola sebuah perusahaan, dimana jaman sekarang bermunculan aplikasi-aplikasi yang serba canggih dan praktis untuk melayani kebutuhan konsumen, sebagai contoh maraknya startup fintech yang bergerak disektor simpan pinjam online, dimana seseorang sekarang bisa mengajukan pinjaman online dengan plafon pinjaman yang telah ditentukan tanpa tatap muka dan persyaratan yang ribet berbelit-belit, maraknya marketplace dimana transaksi jual beli tanpa harus adanya pertemuan anatara si penjual dengan si pembeli, dan barang yang diinginkan bisa kita miliki, semua itu bisa kita lakukan dalam satu genggaman gadget. Hal seperti itulah yang seharusnya dilakukan oleh koperasi dengan melakukan transformasi digital koperasi dari yang tadinya konvensional menjadi modernisasi koperasi dalam melayani kebutuhan anggotanya.

Koperasi tidak cukup hanya sebatas melayani kebutuhan anggotanya, akan tetapi lebih dari itu koperasi harus bisa memanjakan para anggotanya, menservice anggotanya serta mengedukasi anggotanya agar terbiasa interaksi dan bertransaksi menggunakan platform aplikasi koperasi disetiap sendi-sendi kehidupan. Hal seperti itulah salah satu upaya untuk mengcampaignkan koperasi agar dapat masuk dan diterima oleh generasi milenial.

Sejarah mencatat pasca terjadinya revolusi Perancis tahun 1789 negara mengalami peningkatan jumlah masyarakat miskin yang cukup signifikan, namun berkat dorongan dari para tokoh koperasi seperti; Charles Forier, Louis Blanc serta Ferdinand Lasalle angka kemiskinan bisa ditekan dengan didirikannya badan koperasi di Perancis. Berdasarkan data ICA (International Cooperative Alliance) atau federasi koperasi dunia hingga tahun 2016 mencatat Perancis memiliki 23.000 koperasi dengan jumlah anggota mencapai 24.460.000 jiwa atau setara dengan 38% dari total populasi Perancis, serta jumlah pekerja koperasi lebih dari 1.000.000 pekerja. Perancis memiliki koperasi tingkat satu dunia dengan perputaran modal sebesar USD 90, 21 Miliar. Hal tersebut menunjukan bahwa kedigdayaan koperasi dalam membangkitkan dan menumbuhkan perekonomian sangat dibutuhkan, bahkan di negara kapitalis seperti Perancis pun koperasi dapat berkontribusi dalam mengentaskan kemiskinan.

Tepat pada hari Rabu, 23 Oktober 2019 Presiden Joko Widodo mengumumkan jajaran menteri kabinetnya yang dinamai kabinet Indonesia maju, banyak pro dan kontra atas pengumuman susunan menteri-menteri yang akan membantu presiden Joko Widodo dan wakil Presiden KH. Ma’ruf Amin lima tahun kedepan, terlepas dari hiruk pikuk, pro dan kontra, sebagai aktivis koperasi tentunya kami menantikan siapa sosok pengganti Bapak Puspayoga Menteri Koperasi era kabinet kerja yang terkenal dengan program unggulannya reformasi total koperasi, tentunya gerakan koperasi Indonesia berharap presiden memilih jajaran para menteri sebagai pembantunya sesuai dengan kompetensi serta yang profesional ahli dibidangnya. Kita ketahui muncul nama Bapak Teten Masduki mantan kepala staf kepresidenan yang ditunjuk Presiden untuk mengisi pos Kementerian Koperasi dan UKM RI. Publik masih meraba-raba tentang track record beliau dibidang perkoperasian, namun penulis tidak bisa berspekulasi menyimpulkan suatu penilaian terhadap sosok Menteri Koperasi yang baru ini, kami terus mendorong agar dibawah kepemimpinan Bapak Teten Masduki dapat membawa perubahan khususnya menjadikan koperasi sebagai nafas kehidupan masyarakat Indonesia dalam berbangsa dan bertanah air, sehingga cita-cita besar bangsa ini menjadikan koperasi sebagai soko guru perekonomian Indonesia segera kita nikmati, karena satu-satunya jalan untuk mencapai pemerataan kesejahteraan tidak lain adalah koperasi. ((Penulis : Eka Setya Dian Anggriawan
Tenaga Ahli Kementerian Koperasi dan UKM Republik Indonesia)

Facebook Comments

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here